Newsletter

       
(JETRO Jakarta Economic Review)


March 2004 Vol.3

News Up-Data

JETRO Releases Survey of Japanese Makers in ASEAN Region and India (March, 2004)

The Japan External Trade Organization (JETRO) hari ini mengumumkan hasil terbaru dari penelitian tentang perusahaan-perusahaan modal Jepang di sektor manufacturing yang beroperasi di negara-negara ASEAN dan India. Penelitian semacam ini dilakukan secara berkala tiap tahun, dan penelitian tahun ini dilakukan pada bulan Januari 2004. Perusahaan-perusahaan yang menyatakan telah memperoleh laba dari kegiatannya berjumlah 70,8%. Persentase tersebut hampir sama dengan tingkat yang dicapai dalam penelitian tahun lalu (71%). Dibandingkan dengan hasil penelitian pada tahun 2002, 49,3% dari responden menyatakan kinerja usahanya semakin baik sedangkan 19,8% responden menyatakan tidak ada perubahan, dan 30,9% menyatakan semakin buruk.

Dalam hal kinerjanya semakin buruk, faktor utama yang menyebabkan kondisi tersebut adalah turunnya harga jual dan persaingan ketat dari segi harga (59,5%), serta semakin tingginya biaya pengadaan bahan baku sehubungan dengan peningkatan harga minyak tanah, besi/baja, dan bahan baku lain (35,5%). Banyak perusahaan di Singapura dan Malaysia menjawab bahwa ekspor sedang merosot.

Tentang laba operasi pada tahun 2004, 50,9% dari responden mengharapkan adanya peningkatan, sedangkan 15,9% memperkirakan kinerja usaha akan memburuk, dan 33,2% menduga tidak ada perbedaan. Persentase responden yang menjawab kinerja akan merosot menurun tajam, atau menjadi hampir setengah dari hasil penelitian tahun lalu. Cukup banyak responden berharap peningkatan terwujud dari perekonomian negara-negara yang sedang tumbuh dengan pesat, seperti India dan Vietnam.

Di wilayah ASEAN, jumlah responden -yang melakukan pengadaan paling sedikit 51% dari kebutuhannya di dalam negeri- meningkat di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Tentang rencana pengadaan pada masa depan (responden dibenarkan memberi lebih dari satu jawaban), 66,2% dari mereka mengharapkan pengadaan di dalam negeri bertambah, 39,3% mengharapkan pengadaan diperoleh dari sumber-sumber yang ada di negara lain di ASEAN. Di lain pihak, jumlah responden -yang mengharapkan melakukan lebih banyak pengadaan dari Cina- agak kecil, atau 19,9%. Angka-angka tersebut di atas mencerminkan upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mempersingkat "lead-time", serta memanfaatkan turunnya tarif antar wilayah berkat implementasi Perjanjian tentang Wilayah Perdagangan Bebas di ASEAN /ASEAN Free Trade Area Agreement (AFTA) pada tahun 2003.

Mekipun hanya 19,9% responden mengharapkan akan menaikkan pengadaan dari Cina, angka tersebut lebih banyak terhitung dari jumlah perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri, seperti mesin listrik dan peralatan elektronik (45,3%), dan suku-cadang barang elektronik (35,0%). Bidang industri tersebut mengharapkan bahwa permintaan terhadap produk yang dihasilkannya akan naik sehubungan dengan makin populernya produk multi-guna. Tetapi, dibandingkan dengan pengadaan dari Cina, persentase perusahaan-perusahaan -yang memperkirakan akan naiknya pengadaan dari sumber di dalam negeri- lebih tinggi di sektor industri yang sama, seperti mesin listrik dan peralatan elektronik (74,2%), dan suku-cadang barang elektronik (64,3%).

Di India, lebih dari 60% responden melakukan pengadaan di dalam negeri paling sedikit 51% dari kebutuhannya. Meskipun, secara umum di semua negara terdapat kecenderungan naiknya pengadaan di dalam negeri, 78,6% dari seluruh responden berpendapat bahwa peningkatan mutu produk dengan pengadaan di dalam negeri sangat penting.

Persentase responden yang sedang merencanakan perluasan usaha dalam jangka waktu dua tahun ke depan meningkat dari 49,9% pada tahun lalu menjadi 53,6% di wilayah ASEAN sedangkan di India naik dari 81,1% menjadi 86,6%.

Terdapat 6,1% responden di ASEAN yang sedang membuat rencana penciutan skala usaha atau penarikan investasinya. Angka tersebut hampir sama dengan hasil penelitian tahun lalu. Tidak ada responden di India yang bermaksud menciutkan atau menarik investasinya.

Responden yang berbasis di ASEAN menyatakan bahwa rencana perluasan merupakan antara lain peningkatan jumlah investasi (57,0%), peningkatan produksi (57,4%) sedangkan rencana penciutan dan penarikan adalah dalam bentuk integrasi atau reorganisasi pengoperasian (35,5%), dan pemindahan produksi produk tertentu ke basis produksi lain di wilayah ASEAN atau Cina (sekitar 20%). Di India, rencana perluasan termasuk penambahan investasi (sekitar 70%), peningkatan produksi (50,0%), dan peningkatan nilai tambah produk (43,1%).

Persentase perusahaan -yang lebih dari 70% penjualannya berasal dari ekspor- menurun ke 51,1% dari 58,8%, dibandingkan hasil penelitian tahun lalu. Turunnya bobot ekspor mencerminkan kondisi bahwa perusaahaan-perusahaan lebih memenuhi pertumbuhan permintaan di dalam negri sebagai akibat dari perkembangan konsumsi sektor swasta yang meningkat secara pesat. Rasio ekspor berbeda di masing-masing negara. Misalnya di Thailand, di mana pasar kendaraan bermotor di dalam negeri yang maju dengan pesat menciptakan permintaan dalam negeri yang kuat, rasio ekspor relatif rendah, atau 35,3%. Di Filipina, meskipun rasio ekspor menurun dari 79,8% pada penelitian tahun lalu, pada tahun 2003 masih cukup tinggi, atau 71,2%, berkat keberhasilan industri-industri barang listrik dan elektronik yang berorientasi ekspor.

Responden yang berbasis di ASEAN menyampaikan masalah-masalah di lingkungan usaha/investasi yang berkaitan dengan proses bea-cukai yang rumit (51,1%), proses administratif lain (43,7%), dan prasarana yang tidak memadai (40,3%). Tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, mareka menyatakan keperihatinannya tentang biaya tenaga kerja yang semakin tinggi (50,6%) dan kesulitan untuk mendapatkan tenaga kerja yang sangat trampil (46,8%).

Responden di India menyebutkan adanya masalah-masalah prasarana yang tidak memadai (72,2%), proses bea-cukai yang rumit (58,5%), sistem perpajakan yang rumit (55,6%), dan proses administratif lain (50,0%) di lingkugan usaha/investasi local, serta biaya tenaga kerja yang semakin tinggi (55,7%) karena masalah tenaga kerja /penempatan kerja sangat diperhatikan.

Penelitian diadakan di India dan negara-negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Jumlah responden yang sah adalah 1.130 perusahaan, atau 48,2% dari 2.345 perusahaan yang dikirimi angket.


Survey ke 14 tentang Perbandingan Biaya Investasi di Kota-Kota dan Wilayah Utama di Asia(Maret 2004)

Pada bulan November 2003, JETRO mengadakan studi banding tentang biaya yang berkaitan dengan investasi di 26 kota di 16 negara utama dan wilayah di Asia. Studi tersebut merupakan yang ke-14 dari suatu rangkaian penelitian yang pertama kali dimulai pada tahun 1995. Penelitian ini dilakukan setiap kurang lebih 6 bulan sampai dengan penelitian ke-11 (tahun 2000), kemudian penelitian dilakukan menjadi setahun sekali.

Dalam penelitian ini, data tentang biaya yang berkaitan dengan investasi di 26 kota disajikan dalam format yang dapat dibandingkan yaitu dengan cara biaya di dalam mata uang di setiap negara dikurs di dalam mata uang dolar AS. Biaya-biaya ini termasuk upah, harga lahan, biaya sewa kantor, biaya telekomunikasi, dan biaya utility umum (listrik, air, gas dan lain-lain). Hal-hal yang diteliti sama dengan studi sebelumnya, tetapi beberapa subyek dibagi lagi agar mendapatkan informasi yang lebih tepat: No. 13 "biaya telepon" dan No.16 "biaya telepon genggam" dalam studi terakhir ini dibagi menjadi (1) tarif dasar bulanan, dan (2) tarif sambungan telepon per menit; No. 17 dan 18, yaitu "biaya sambungan internet" dibagi menjadi (1) biaya awal kontrak/pendaftaran, (2) tarif dasar bulanan, dan (3) biaya sambungan per jam; No.19 sampai dengan 24, yaitu "tarif listrik", "tarif air" dan "tarif gas" dibagi menjadi (1) tarif dasar bulanan, dan (2) biaya pemakaian masing-masing, menurut angka pada meteran. Keterangan tentang "Insentif yang diberikan oleh setiap negara dan di setiap daerah" terdapat pada "JETRO-Overseas-Information-FILE" (www.jetro.go.jp/jetro-file/).

Kantor perwakilan JETRO di luar negeri mengumpulkan informasi untuk studi ini. (Untuk Taipei, penelitian dilakukan atas kerja sama dengan Interchange Association.) Untuk data tentang upah menurut jenis pekerjaan, secara prinsip kami menggunakan data dari penelitian tentang upah yang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri Jepang setempat atau organisai sejenis, sedangkan untuk kota-kota di mana penelitian semacam ini tidak dilakukan, kami mengumpulkan data dari beberapa perusahaan manufacturing Jepang melalui wawancara. Untuk hal-hal lain, kami mengumpulkan informasi melalui organisasi pemerintah setempat serta perusahaan-perusahaan terkait.

Sebagai kurs tukar antara mata uang lokal dengan dolau AS, secara prinsip, kami menggunakan interbank rate pada tanggal 14 November 2003. Bila dibandingkan kurs tukar dengan penelitian sebelumnya ( November 2002), persentase perubahan pada umumnya tidak begitu berarti, kecuali dengan mata uang Thailand Baht (naik sebesar 9,0% terhadap dolar AS menurut metode IMF), Kyat Myanmmar (naik sebesar 37,5% menurut metode yang sama), dan yen Jepang (naik sebesar 10,5% menurut metode yang sama). Maka, fluktuasi dalam kurs tukar valuta asing hanya sedikit mempengaruhi biaya investasi.

Terus naiknya tingkat upah di Cina
Menurut statistik resmi tentang pertumbuhan upah pada tahun 2002, upah di Cina menunjuhkan kecenderungan terus-menerus meningkat. Peningkatan upah di Beijing, Dalian, Shenyang, dan Chongqing di dalam banyak kasus melebihi 10% sedangkan peningkatan upah di Shanghai dan Shenzhen, dimana tingkat upah relatif tinggi, persentase kenaikan upah tidak begitu besar. Upah di Hong Kong, Taipei, Singapura, Bangkoko menurun. Di Jakarta, tidak terdapat statistik pemerintah tentang upah. Tetapi upah minimum yang ditentukan berdasarkan peraturan pemerintah menunjukkan kenaikan yang cukup besar setiap tahun sejak tahun 1999, yaitu 49,0%, 23,8%, dan 38,7%, tetapi kenaikan pada tahun 2003 tersendat di tingkat 6%, dan kenaikan upah berdasarkan mata uang lokal sedang mengalami perubahan. Meskipun kurs tukar rupiah, mata uang Indonesia, terhadap dolar AS naik sekitar 6% pada tahun yang lalu, beban upah pada perusahaan menurut mata uang dolar AS masih dirasakan tidak berkurang.

Rasio beban biaya pengamanan sosial (kontribusi oleh pengusaha/manajemen) di beberapa kota di Cina, kecuali Shenzhen, yaitu antara 20 sampai 40%, jauh di atas rasio di negara-negara dan wilayah lain. Upah rendah merupakan salah satu keunggulan di Cina, tetapi dengan memperhatikan biaya-biaya lain di bidang ketenagakerjaan, perlu dipertimbangkan seluruh biaya termasuk beban biaya pengamanan sosial.

Turunnya tarif komunikasi bersifat sementara.
Perubahan harga lahan dan biaya sewa kantor tidak begitu berarti. Dalam hal tarif komunikasi (telepon dan telepon genggam), di banyak kota biaya telepon menurun oleh karena pemakaian telepon genggam menjadi semakin banyak

Hasil penelitian pada tahun 2001 menunjukkan bahwa di sebagian besar kota biaya telekomunikasi (biaya telepon biasa dan telepon genggam) berkurang oleh karena turunnya persentase biaya telepon biasa sebagai akibat dari semakin banyak penggunaan telepon genggam. Namun, hasil penelitian terakhir tidak menunjukkan kondisi demikian. Kecenderungan turunnya biaya telekomunikasi -karena semakin banyak penggunaan telepon genggam- diperkirakan sudah berhenti.

Tidak ditemukan banyak perubahan pada tarif public utilities, seperti tarif listrik, air dan gas. Tetapi, di Jakarta tarif air dan gas menunjukkan kenaikan. Pada bulan Januari 2003, pemerintah Indonesia memutuskan kenaikan berbagai tarif public utilities dengan alasan pengurangan subsidi untuk bahan bakar minyak. Pemerintah Indonesia sudah mengambil keputusan untuk menainkkan tarif listrik setiap tiga bulan, tetapi kenaikan pada triwulan ke-4 tahun 2003 ditunda.

Harga mobil penumpang di Singapura dan Yangoon jauh lebih tinggi dibandingkan kota-kota dan wilayah lain. Di Singapura, jumlah penerbitan Certificates of Entitlement (COE/Sertifikat pemilikan) dibatasi sebagai upaya mencegah kemacetan lalu lintas, dan mobil menjadi sangat mahal karena harga mobil ditentukan melalui tender. Di Yangoon, di mana mobil baru maupun bekas tidak dapat diimpor, dan tidak ada mobil yang diproduksi di dalam negeri, kelebihan permintaan dibandingkan penyediaan mengakibatkan harga mobil menjadi luar biasa tinggi. Menurut hasil penelitian yang lalu, harga mobil penumpang menurun secara drastic di Cina oleh karena tarif bea masuk menurun secara drastis setelah Cina diterima sebagai anggota WTO pada tahun 2001. Tetapi, kecenderungan tersebut tidak nampak di dalam studi ini.

Di bidang perpajakan, kenaikan pajak penghasilan badan usaha (dari 16% ke 17,5%) dan pajak penghasilan pribadi (dari 15% ke 15,5%) nampak di dalam studi ini. Di Singapura, pajak penghasilan badan usaha (dari 15% ke 15,5%) dan pajak penghasilan pribadi (dari 26% ke 22%, tarif pajak tertinggi) diturunkan, sedangkan pajak nilai tambah dinaikan dari 3% ke 4% (ke 5% pada bulan Januai 2004). Pajak penghasilan badan usaha di India (dari 42% ke 41%). Pajak penghasilan badan usaha (dari 35% ke 32,5%) serta pajak penghasilan pribadi (dari 35% ke 30%, tarif pajak tertinggi) di Sri Lanka diturunkan.


Laporan Acara

JETRO menyelenggarakan proyek-proyek sebagai berikut;(Maret 2004)
Proyek GHS

Telah disepakati pelaksanaan GHS (Globally Harmonized System for Classification and Labelling of Chemicals) mulai tahun 2008 berdasarkan rekomendasi PBB, dan WGCI dari APEC telah bersepakat pula untuk menerapkan GHS sebelum tahun 2006. Dengan tujuan membantu pengembangan kemampuan/capacity building untuk menerapkan GHS, JETRO mendatangkan 3 orang tenaga ahli ke Indonesia, dan menyelenggarakan seminar yang dihadiri oleh peserta dari dunia usaha maupun pemerintah. Seminar tersebut bertujuan untuk menyebarluaskan pengetahuan/informasi tentang GHS. Selain itu, telah dilakukan diskusi dengan beberapa pengusaha, dan menghasilakan beberapa keputusan, termasuk pembuatan "master plan" untuk menerapkan GHS versi Indonesia.

Program
1) Seminar (Pengendalian pengamanan bahan kimia berdasarkan GHS)
a. Tempat: Hotel Gran Mahakam
b. Peserta: kurang lebih 90 orang termasuk dari perusahaan anggota KN-CRI
c. Program:

 a)Pembukaan
 - Bapak Frank Moniaga, KN-RCI Presidium
 - Bapak Hiroyuki Kato, Presiden Direktur JETRO Jakarta

 b)Keynote speech
 - Bapak Isa Karmisa, Deputi IV, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup
 - Bapak Yoji SUGA, Deputi Devisi Manajemen Bahan Kimia, Industri Manufakturing, Kementerian Ekonomi dan Industri (METI Jepang)
 - Bapak Aryan Wargadalam, Sekretaris, Direktrat Jenderal industri Kimia, Agro, Hasil Hutan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan

 c)Presentasi
   "Kecenderungan internasional dan sejarah singkat GHS"
   oleh Bapak Kozo ARAI, Asosiasi industri kimia Jepang
   "Kebijaksanaan manajemen bahan kimia Jepang dan GHS"
   oleh Bapak Yoji SUGA, Kementerian ekonomi dan industri
   "Persiapan yang dilakukan oleh Industri-Industri di Jepang untuk GHS"
   oleh Bapak Kozo ARAI, Asosiasi industri kimia Jepang
   "Situasi sekarang di Indonesia menjelang penerapan GHS"
   oleh Dra. Dumaria Pangaribuan, Apt, Badan POM

2) Diskusi dengan pihak-pihak terkait di Indonesia
a. Tempat: Graha Sucofindo
b. Peserta: 39 orang
Wakil-wakil dari JETRO, Asosiasi Responsible Care (KN-RCI), Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Tenagakerja dan Transmigrasi, Departemen pertanian, Badan Pengawasan Obat dan Makanan

3) "Counterpart": Komite Nasional Responsible Care Indonesia (KN-RCI)


The Progress Presentation Seminar-Regional Development JEXSA di Semarang

Guna mendapatkan umpan balik atas bantuan tenaga ahli JEXSA (JETRO Expert Service Abroad for Improving Business Environmrents) bagi peningkatan mutu produk beberapa perusahaan yang bergerak dibidang furnitur dan produk lain terbuat dari kayu, maka pada tanggal 16 Maret yang lalu, JETRO telah menyelenggarakan seminar setengah hari bertemakan "The Progress Presentation Seminar-Regional Development JEXSA"

Seminar yang dihadiri kalangan swasta dan pejabat pemerintah, propinsi Jawa Tengah ini dibuka oleh Sundoro, Ketua KADINDA propinsi Jawa Tengah, Myasto Kepala BAPPEDA mewakili Gubernur Jawa Tengah, Dharminto Hartono Managing Director, Semarang Business Forum serta Nakayama dari JETRO Jakarta. Dalam sambutannya, mereka pada umumnya mendukung usaha JETRO mendatangkan tenaga ahli ke Jawa Tengah karena hal ini sangat bermanfaat bagi peningkatan mutu furnitur dan produk lain terbuat dari kayu yang nantinya akan bermuara kepada peningkatan ekspor Jawa Tengah.

Dalam seminar ini perusahaan-perusahaan penerima bantuan tenaga ahli JEXSA diberi kesempatan menyampaikan pendapat dan kritik mereka atas program JEXSA tersebut. Sebagaimana diketahui, JETRO telah mendatangkan 2 (dua) tenaga ahli yaitu Toshio TAMAOKI dibidang Kiln Dry (KD) dan Michio SATO dibidang furnitur. Sedangkan penerima bantuan terdiri dari 5 (lima) perusahaan yaitu PT.Bogowonto Primalars bergerak dibidang flooring dan pintu; PT.Limbang Ganeca produsen kayu lapis; CV.Vina Arya produsen klasik furniture; PT.Citra Serayu Mas bergerak dibidang furnitur dan produk kayu lainnya serta PT.Hijau Mas produsen repro furnitur.

PT. Bogowonto Primalaras menyatakan bahwa setelah mendapat petunjuk dan bimbingan tenaga ahli JETRO, perusahaan mengalami beberapa perbaikan dibidang prosesing, pemanfaatan limbah kayu maupun pemasaran produk jadinya. PT.Limbang Ganeca menggaris bawahi bahwa bantuan teknis JETRO telah meningkatkan mutu kayu yang dihasilkan serta peningkatan efisiensi dalam pengoperasian KD. Sementara CV.Vina Arya melaporkan bahwa sesuai dengan petunjuk tenaga ahli JEXSA, pengoperasian KD telah dilakukan sendiri (in house) dengan mengganti hot water system menjadi steam boiler dengan digital control system. Perusahaan ini juga mengusulkan agar sistim komunikasi dan evaluasi antara perusahaan dan tenaga ahli perlu lebih diintensifkan. Diharapkan agar program ini dapat terus berlanjut untuk beberapa tahun kedepan. PT. Citra Serayu Mas melihat manfaat bantuan tenaga ahli dari beberapa aspek antara lain perlunya peningkatan mutu sumber daya manusia, bahan baku, metode dan ukuran yang digunakan, masalah lingkungan serta mesin dan peralatan. PT.Hijau Mas melihat masih terdapatnya kekurangan yang dihadapi industri furnitur di Indonesia baik dari segi bahan baku kayu, tenaga kerja maupun mesin dan peralatan yang digunakan. Sesuai dengan arahan tenaga ahli JEXSA maka perusahaan mencanangkan target untuk memiliki dan mengawasi sendiri KD dalam upaya meningkatkan produk yang dihasilkan. Hijau Mas juga menghibau JETRO agar sebelum mengirimkan tenaga ahli JEXSA, terlebih dahulu JETRO mengadakan preliminary survey ke perusahaan-perusahaan sehingga diharapkan penggunaan tenaga ahli bisa lebih efektif dipandang dari segi waktu maupun tenaga ahli yang dibutuhkan.


Disclaimer
Copyright c 2004 JETRO Jakarta
All rights reserved. No Part of this Report may be reproduced, or transmitted in any form or by any means, electronic or mechanical, including photocopying, recording, and micro copying, or by any information storage and retrieval system, without the written permission from the publisher.

Publisher:
JETRO, Jakarta Center
Summitmas I, 6th Floor Jl. Jend. Sudirman Kav.61-62 Jakarta, Indonesia
Telephone: (62-21-520 0264) Facsimile : (62-21-520 0261)
E-mail: jkt@jetro.or.id     URL: https://www.jetro.go.jp/indonesia