newsletter
Edisi 38/Oktober 2007
JETRO menyelenggarakan Forum Bisnis Indonesia - Jepang (3)
Sesi kedua dalam forum bisnis bertema ”Strategi Bisnis Global dan JIEPA”. Pada sesi ini dibahas bagaimana memposisikan Indonesia dalam rangka perancangan strategi global oleh perusahaan serta dampak dari JIEPA. Pembicara utama dalam sesi ini adalah Menteri Perdagangan, Mari Pangestu dan Ketua Komite Ekonomi Jepang-Indonesia Nippon Keidanren, Okitsu,sedangkan panelis adalah Deputi ekonomi dan industri, Toyoda, Wakil ketua Kadin, John Prasteyo dan CEO JETRO, Hayashi. Okitsu menyatakan bahwa terdapat rencana investasi senilai 7 miliyar USD selama 5 tahun ke depan dan ia mengharapkan adanya perbaikan iklim investasi yang lebih baik, agar pelaksanaan investasi tersebut dapat berjalan dengan lancar.[Mari Pangestu: Menekankan Kerjasama antara Pemerintah dan Swasta untuk Mewujudkan Kondisi Saling Menguntungkan bagi Kedua Negara]
Mari Pangestu menyambut dengan hangat kedatangan misi ekonomi besar dari Jepang tersebut dan meyatakan harapannya agar ada kunjungan berikutnya. Menurutnya hari ini merupakan hari yang bersejarah, dimana JIEPA ditandatangani dan menjelaskan bahwa tujuan JIEPA adalah meningkatan perdagangan dan investasi di Indonesia, meningkatkan ekspor serta memposisikan Indonesia sebagai basis produksi .
Menurutnya, Jepang telah menurunkan peringkat Indonesia sebagai negara tujuan investasi sejak krisis moneter. Pada tahun 1997, Indonesia berada pada peringkat 3, selanjutnya turun ke peringkat 6 pada tahun 2003, dan kemudian menjadi peringkat 9 pada tahun 2006. Namun melalui JIEPA, akan terbentuk fondasi yang kuat dimana kondisi akan berubah secara positif dan terdapat berbagai keuntungan potensial, dimana sekitar 90% pajak untuk akses pasar ke Jepang menjadi nol, padahal selama ini tekstil, apparel, alas kaki, kayu, kopi dll merupakan produk berbea masuk tinggi. Selain itu, Jepang mempunyai kesan bahwa kepastian dan kestabilan di Indonesia akan membaik.
Diharapkan juga adanya peningkatan investasi di bidang non energi. Telah direncanakan kerjasama dalam capacity building di bidang pertanian, perikanan, manufaktur dll, sehingga diharapkan menjadi terobosan untuk meningkatkan investasi. Yang tidak kalah penting adalah bantuan JETRO
dalam rangka program OVOP(One Village One Product).
Ditekankan juga bahwa penting dalam pelaksanaan JIEPA adalah kerjasama antara pemerintah dan swasta sehingga memberi manfaat bagi kedua negara. Menurutnya, persiapan akan diselesaikan sebelum akhir tahun sehingga implementasi JIEPA dapat dimulai sejak tanggal 1 Januari tahun depan.
[Okitsu: Rencana Investasi Senilai 7 Miliyar USD selama 5 Tahun ke Depan]
Ia mengemukakan akan adanya beberapa tantangan yang berkaitan dengan strategi bisnis global pasca penadatanganan JIEPA sebagai berikut. Indonesia sebagai negara besar di ASEAN, merupakan mitra penting bagi dunia ekonomi Jepang baik di bidang perdagangan maupun investasi. Sehingga yang terpenting adalah mempererat dan menggiatkan hubungan ekonomi kedua negara. Sejak dulu, Nippon Keidanren telah meminta penandatanganan JIEPA dengan Indonesia dilaksanakan secepat mungkin, mengingat Indonesia merupakan negara penting secara strategis. Ia menyatakan kegembiraannya atas penandatanganan JIEPA pada hari ini dan sekaligus meminta agar kedua negara segera mengefektifkan pelaksanaannya.
Menurut hasil angket yang diadakan menjelang kunjungan misi ini; yang bertujuan untuk memahami masalah yang dihadapi pengusaha dalam rangka pengembangan bisnis - terdapat banyak masukan dalam hal (1) perbaikan prosedur perizinan ketenagakerjaan dan visa, (2) perbaikan iklim ketenagakerjaan termasuk revisi regulasi ketenagakerjaan, (3) prosedur administratif yang efektif tanpa rintangan masalah antar lembaga, (4) peningkatan transparansi prosedur perpajakan, (5) tranparansi UU Penanaman Modal baru, (6) perlindungan HKI yang efektif dll.
Dengan penandatanganan JIEPA dan juga pelaksanaan SIAP yang ditetapkan dalam forum investasi gabungan pemerintah-swasta dengan pasti, ia yakin bahwa daya saing internasional dan daya saing investasi Indonesia akan semakin meningkat. Selama ini telah ada upaya-upaya perbaikan iklim investasi di bidang hukum seperti UU Penanaman Modal, Paket Kebijakan Ekonomi yang baru. Maka dimasa yang akan datang, diharapkan upaya-upaya serupa akan dilaksanakan dengan lebih giat agar implementasi di lapangan menjadi lebih efektif..
Dari segi strategi bisnis global, Ia menyinggung potensi dalam peningkatan hubungan kerjasama kedua negara pasca penandatanganan JIEPA. Dunia ekonomi Jepang memposisikan kerjasama yang aktif di bidang penguatan daya saing internasional bagi produk Indonesia. Selain itu pengembangan industri dan SDM di Indonesia sangat diperlukan dalam pengembangan danperkembangan hubungan ekonomi kedua negara. Untuk itu, Ia mengharapkan 2 hal, yaitu adanya upaya yang berkaitan dengan aturan hukuman dan penindakan dini dalam rangka perlindungan HKI serta adanya kejelasan dalam hal kebijakan pengembangan industri ke depan.
Menghadapi persaingan global yang semakin ketat, perusahaan Jepang lebih sensitif terhadap iklim bisnis di negara tujuan investasi, khususnya dalam hal pelaksanaan pengadaan, produksi dan pemasokan yang paling optimal dalam skala global, sehingga standar yang dituntut semakin ketat. Oleh karena itu tantangan bagi Indonesia adalah penataan infrastruktur, seperti arus barang, tenaga listrik dll, pengembangan industri pendukung yang sanggup memasok komponen lokal, capacity building dll. Peserta dari perusahaan Jepang sedang mempertimbangkan berbagai investasi senilai 800 miliyar yen atau senilai 7 miliyar USD selama 5 tahun ke depan. Agar rencana investasi terwujud dengan lancar dan dapat meningkatkan jumlah perusahaan yang ikut serta berinvestasi, maka sangat penting untuk mendengar masukan dari perusahaan Jepang melalui forum investasi gabungan pemerintah-swasta dll. Selain itu, perlu juga untuk terus memperbaiki iklim investasi agar lebih menarik.
[Toyoda: Indonesia Diharapkan Menjadi hub dalam Kemitraan Ekonomi ASEAN]
Dengan JIEPA dimana 90% bea masuk produk menjadi nol selama 10 tahun ke depan, maka dalam rangka liberalisasi perdagangan, daya saing akan dapat ditingkatkan, sehingga dimungkinkan juga terjadi peningkatan investasi. Selain itu juga kerangka kebijakan pengembangan industri juga sudah disetujui, termasuk pendirian pusat pengembangan manufaktur dll.
Menyusul kemitraan di kawasan Asia Timur, kemitraan ekonomi komprehensif ASEAN akan disetujui pada tanggal 25 Agustus. Sebagai langkah berikut CEPEA (kemitraan ekonomi sekawasan timur), dimana 5 EPA dimitrakan dengan kerangka ASEAN +1 sehingga kemitraan bilateral menjadi EPA yang lebih berdimensi. Dengan demikian 600 juta dari ASEAN dan Jepang, dan 3 miliyar CEPEA secara keseluruhan menjadi satu pasar dan Indonesia diharapkan menjadi hub kemitraan ekonomi ASEAN.
[John: Diharapkan Memposisikan Indonesia sebagai Gateway antara ASEAN dan Timur Tengah]
Dikutip dari hasil survei JETRO terhadap perusahaan Jepang di kawasan Asia yang diterbitkan pada bulan April, bahwa 50% perusahaan Jepang di Indonesia merencanakan perluasan selama 2-3
tahun kedepan. Diantaranya 131 perusahaan Jepang memposisikan Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi kuat di pasar domestik dan juga merupakan negara tujuan investasi yang penting.
China juga merupakan negara tujuan investasi penting bagi Jepang selama 10 tahun ini, namun menurut laporan tersebut, banyak perusahaan mulai mempertimbangkan negara lain seperti India, Indonesia, Vietnam dll sebagai strategi China +1, sehingga diusulkan 2 strategi regional kepada misi ekonomi sebagai berikut:
Pertama, apabila kawasan perdagangan bebas ASEAN terwujud pada tahun 2010 dan kawasan ekonomi terpadu pada tahun 2015, mewujudkan pasar tunggal dimana arus barang, jasa, investasi, SDM dll menjadi bebas. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara yang luas dan memiliki penduduk terbesar di ASEAN serta dengan semakin meningkatnya standar pendapatan, dapat menjadi gateway yang menarik untuk memasuki pasar ASEAN.
Kedua, berkaitan dengan keuangan berdasarkan prinsip Islam yang sedang dikembangkan di Indonesia secara aktif, maka Indonesia dapat menjadi jembatan antara Timur Tengah dan Asia Timur. Oleh sebab itu, maka Ia berharap agar peserta mempertimbangkan pembiayaan dari Indonesia sebagai gateway permodalan.
[Hayashi: Diharapkan Indonesia menjadi Gateway antara Kawasan ASEAN dan Timur Tengah]
Ia menilai bahwa sejak krisis moneter Asia, Indonesia belum bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki secara optimal, namun di bawah kepemimpinan presiden SBY, Indonesia dapat memasuki masa stabil dari segi politik, dan dapat mengatasi berbagai kesulitan ekonomi seperti kenaikan harga BBM dan serangkaian bencana alam, sehingga tetap dapat memasuki masa pertumbuhan. Penting bagi Indonesia untuk memposisikan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki dalam jaringan kegiatan usaha di Asia yang semakin berkembang. Bagi perusahaan Jepang, JIEPA menjadi momen yang penting dalam meningkatkan nilai Indonesia dalam strategi global atau regional.
Menurutnya, yang penting adalah JIEPA dapat memberikan manfaat bagi perusahaan secara nyata. Berdasarkan MoU yang ditandatangani antara JETRO dan KADIN, juga terdapat pengembangan industri pendukung seperti, pengelolaan bussiness support desk, dimana diberikan peluang usaha bagi perusahaan dari kedua negara, kerjasama dalam capacity building kepada perusahaan Indonesia, bantuan kegiatan IMDIA dalam rangka initiatif MIDEC(pusat pengembangan manufaktur).
Ia menunjukkan minat untuk bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah domestik yang sedang diupayakan dalam arus globalisasi. Dengan program OVOP dan kebijakan UKM, pengalaman Jepang diperkenalkan di Indonesia dan terus diadakan dialog dengan pemerintah Indonesia, sehingga suatu saat perusahaan Jepang dan Indonesia akan melaksanakan usaha bersama di negara ketiga. Dalam hal ini, JETRO dapat membantu dengan memanfaatkan jaringan global yang dimiliki.
Dengan mempertimbangkan China yang memiliki ketidakpastian dan ketidaktransparan sistim, yang disebabkan adanya kenaikan biaya tenaga kerja, kenaikan kurs dan perubahan kebijakan PMA, serta Vietnam dengan tingkat pendapatan yang rendah dan sulit diharapkannya peningkatan penjualan mobil. Maka Indonesia memiliki kesempatan yang lebih dapat diharapkan,, oleh sebab itu baik pihak pemerintah maupun swasta Indonesia diharapkan dapat melaksanakan perbaikan iklim investasi secepat mungkin.
=====================================================================
Business Matching Database (TTPP)
Melakukan kemitraan bisnis secara online melalui layanan JETRO
Database tentang kemitraan bisnis secara online yang tersedia gratis, memungkinkan perusahaan dan perorangan diseluruh dunia melakukan kemitraan bisnis melalui 40,000 lebih usulan dan/atau proposal bisnis. TTPP menjangkau mitra bisnis potensial di Jepang dan dunia internasional. Daftarkan perusahaan anda dan sampaikan proposal bisnis anda melalui TTPP https://www3.jetro.go.jp/ttppoas/index.html
TTPP juga dapat diakses melalui website KADIN Indonesia http://www.kadin-indonesia.or.id (klik pada bagian “temu usaha



